hafied.org

A Personal Weblog of Hafied Gany 

"Mengenang Enam Tahun Mudik Bersama Bandung-Watan Soppeng (PP) - 2003"

(download)

Dalam Rangka memperingati enam tahun berlalunya "Mudik Bersama" (Rewe' Sipulung-2003), yang akan jatuh pada tanggal 1 Juli 2009 mendatang (28 Juni 2003 s/d 15 Juli 2003), Kami muat kembali artikel yang pernah dimuat di situs "Panyingkul" Makassar Agustus, 2007, setelah beberapa editing dari redaksinya. Mudah-mudahan dapat menumbuhkan kembali Rasa Cinta, Rindu, Semangat Silaturrahim, dan Kepedulian antara warga Soppeng di Soppeng dan di Perantauan. (H @ Gany-2009).

Comments [0]

AYAHKOE MALAIKATKOE (Episode II dari 3 Tulisan oleh Hafied Gany)

(download)

“Ayahkoe, Malaikatkoe”

Bagian II. (Kedua) dari tiga episode tulisan

 

Oleh: A. Hafied A. Gany (Gany-2)

gany@hafied.org

 

Pada episode kali ini, saya akan memaparkan beberapa kisah perlakuan beliau sebagai manusia biasa, saat mana saya pernah juga merasakan curahan emosi insani beliau, menunjukkan rasa sedih di wajahnya tatkala membesuk kami yang sedang sakit di Takkalalla, memarahi bahkan menghukum kami bersama kakanda dengan lentikan cambuk dahan kering, membuatkan mainan layangan, senapan katapel, bahkan menghadiahkan telur ayam “leghorn” peliharaan beliau untuk dimasak setengah matang atau dibuat menjadi teh telur berbusa yang juga menjadi kesenangan beliau. Tidak jarang makanan atau kue-kue kesenangan beliau yang sengaja disediakan dan disisihkan Ibunda, malahan tidak dimakannya, dan bahkan sengaja diserahkan semua kepada kami pada saat menemani beliau santap siang pulang kantor. Pada episode ke tiga nanti, kami akan menuturkan bagaimana ungkapan cinta kasih beliau kepada kami pada saat kami menanjak dewasa, pada saat sakit, dan pada saat kami sudah berkeluarga dan berbagai ungkapan kasih sayang beliau kepada cucu-cucunya.

 

Comments [0]

AYAHKOE, MALAIKATKOE, (Bagian I dari tiga episode tulisan)

(download)

Salah satu sikap dan kebiasaan Pung Dullah (Ayahku) yang berbeda dengan dengan kebanyakan orang tua terhadap anak-anaknya, adalah bahwa beliau tidak pernah mengumbar rasa kasih sayang kepada anak-anaknya berupa menggendong, memeluk, membujuk, atau mencium anak-anaknya dengan perilaku gregetan, demikian juga beliau sama sekali tidak pernah secara langsung memarahi, menghukum, apalagi memukul anak-anaknya, bagaimanapun kesalnya beliau. Namun ini sama sekali bukan berarti bahwa Pung Dullah kurang menyayangi, atau kurang perhatian terhadap anak-anaknya. ............

Comments [0]

PEMBELAJARAN PUNG DULLAH DARI MERTUANYA - K.H. MADEALI

(download)

S

uatu hal yang saya anggap aneh tapi nyata dalam hubungan sehari-hari antara Pung Dullah dengan mertuanya, K.H. Madeali bahwa sepanjang ingatan dalam hidup saya, belum pernah saya saksikan beliau berkomunikasi bersapaan atau berbincang-bincang secara lisan sebagaimana hubungan kebanyakan orang antara mertua dan mantu pada umumnya. Sepanjang ingatan saya beliau hanya pernah saya saksikan berkomunikasi secara tidak langsung melalui mediasi orang ketiga atau lewat isterinya Pung Dullah Sendiri (H. Adawiah Aly). Itu-pun merupakan peristiwa langkah yang pernah saya saksikan dalam hidup saya.

Comments [0]

INMEMORIUM 45 TAHUN PESAN TERAKHIR KAKEK K.H. MADEALI (1895-1965) KEPADA CUCU CICITNYA

(download)

Butir-Butir Pesan Kakek Bujut K. H. Madeali (Melalui serangkaian surat yang ditulis dalam aksara dan Bahasa Bugis, Antara 21 Maret 1964 s/d 18 September 1964)

Inti sari dituturkan kembali oleh: A. Hafied A. Gany (Surat Asli masih tersimpan rapih)

Comments [1]

Reuni "Rewe Sipulung-2003" di Garut.

(download)

                   
Click here to download:
Upload_Inet.zip (900 KB)

Comments [3]

KONSEPSI ‘TAPAK-KAKI AIR’ (WATER FOOTPRINT CONCEPT): Sebagai Salah Satu Parameter Global dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Antar-lintas Teritorial, Sektor dan Pemangku Kepentingan

(download)

Mengantisipasi tuntutan keterpaduan antar-lintas teritorial, sektor dan lintas pemangku kepentingn dalam mewujudkan Pengelolaan Sumber Daya Air terintegrasi dan berkelanjutan, belakangan ini timbul berbagai upaya untuk mencari parameter yang dapat disepakati para pihak terkait, yang dapat dipakai untuk menjembatani kepentingan-kepentingan berbeda, namun terkait erat antar pemangku kepentingan (stakeholders), antar lintas pemangku kepentingan teritorial, regional, maupun internasional yang berkeadilan.

Konsepsi Parameter Tapak-kaki Air (Water Footprint Concept), yang mula-mula diperkenalkan oleh Arjen Hoekstra, 2002, bertujuan sebagai indikator penggunaan air, dalam kaitannya dengan konsumsi. Termasuk di dalamnya “tapak air” untuk pemakaian individu, sektor usaha, atau negara yang didefinisikan sebagai: “Jumlah total air tawar yang dipergunakan untuk memproduksi barang dan jasa yang dikonsumsi oleh, individu, sektor usaha, atau negara”. Hal ini berbeda, namun tidak terpisahkan dengan konsepsi “air maya” (virtual water), yang pertama kali diperkenalkan oleh Tony Allan, 1990, yang didefinisikan sebagai: “Volume air total yang dipergunakan untuk memproduksi komoditas atau jasa”.

Makalah ini disusun untuk mencoba mengenalkan konsepsi ‘tapak-kaki air’ atau water footprint sebagaimana yang direkomendasikan dalam berbagai forum-forum ilmiah dunia, serta mengantisipasi berbagai kesepakatan global, misalnya “Ministerial Statement”, World Summit, World Declaration dan semacamnya yang merekomendasikan komunitas dunia, atau negara anggota World Water Council untuk mendukung implementasi “penerapan dimensi tapak-kaki air dalam pengelolaan SDA antar-lintas kawasan, teritorial, pemangku kepentingan dan semacamnya. Bagaimana prinsip dasarnya, penetapan besarannya, serta, aplikasi dan prospek ke depan, berikut antisipasi kendala dan permasalahan terkait.  

 

Comments [0]

Water for Bioenergy AND Food?

(download)

On the occation of the World Water Forum Istanbul, Turkey, 16-22 March, 2009,  A. Hafied A. Gany, Ph.D., P.Eng. had been participated as a panelist member of Session III: focusing on bioenergy and water,   "Water for Bioenergy or Food?. The following paper, had been utized as the major source of presentation, and discussion in the panel discussion. 

Comments [0]

NOSTALGIA KULINER PUNG DULLAH (H.A.A. GANY)

Nostalgia Kuliner Pung Dullah” (H.A.A. Gany) ….. Dituturkan Oleh Gany-2.

“…….. pikiran saya sontak teringat dengan nostalgia kuliner yang paling nikmat dan berkesan seumur hidup bagi almarhum ayah saya, yang beberapa kali di ceriterakan kepada kami, anak-anaknya. Pada mulanya, saya menduga bahwa pastilah makanan yang dimaksud ayah saya adalah makanan istimewa yang mungkin dinikmatinya bersama orang kaya yang biasa makan bermewah mewah. Ternyata, ceriteranya jauh di luar dugaan saya.

Ayah saya yang ditinggal bapaknya merantau ke Kutai pada saat beliau berumur enam bulan di dalam kandungan ibunya, pada masa remajanya terpaksa menjalani kehidupan keras yang sehari-hari bergaul dengan kawanan preman (ana’ paasaa’ – Bugis) di Desa Gilireng, pemerintahan Wajo bagian Selatan. Beliau tidur dan makan di sana sini bersama kawanannya, dimanapun dia tiba, tanpa alamat tetap. Maklum beliau diasuh oleh ibunya yang janda di desa Kacimpang, hanya sempat menammatkan pendidikannya di sekolah desa tiga tahun, tanpa pernah sempat bertemu dengan bapak di sepanjang hidupnya (ayah saya meninggal di tahun 1994 dalam usia 82 tahun).

Pada suatu hari menjelang siang, ayah saya tiba di dusun Umpungeng di gubuk peladangan pamannya, merebahkan diri di balai-balai bambu (panrung – Bugis)  dalam keadaan lapar dan sempoyongan, karena sejak pagi buta beliau berangkat dari Gilireng berjalan kaki di panas terik, tanpa sarapan atau minum air teh dingin sekalipun. Bermaksud bersama pamannya makan siang di gubuk tersebut, beliau sangat kecewa, mengetahui bahwa pamannya baru saja makan siang, dan makanan tidak tersisa sedikitpun karena besoknya hari pasaran di Umpungeng, saat pamannya akan belanja.

Mengetahui bahwa kemanakannya kecapekan belum makan, paman ayah saya dengan gesit diam-diam menyelinap ke tengah-tengah kebun, mencari tau kalau-kalau ada bisa dimakan ayah saya. Sayangnya bahwa tanaman jagung yang tadinya ada dalam benak beliu, ternyata masih prematus dan belum cukup tua untuk dipetik. Namun demikian, karena tidak ada alternatif lain, rumahnya di Tengnga PadangngE’, harus ditempuh berjalan kaki beberapa jam, terpaksa jagung yang butir-butirnya baru menonjol, dipetik secukupnya, sambil memetik beberapa helai daun kelor dan cabe kecil (ladang barica – Bugis) di pojok pekarangan dalam perjalanan kembali dari kebun. Tanpa berlama-lama lagi, beliau langsung mengiris butiran-butiran jagung prematur tersebut untuk diramunya menjadi makanan siang ayah saya. (Untuk jagung yang sudah cukup  matang, memang biasa dibuat menjadi nasi jagung muda (barelle saroso - Bugis).

Tidak sampai setengah jam, apa yang disiapkan paman ayah saya sebagai makanan siang sudah selesai, dan beliau langsung membangunkan ayah saya, yang sedang berbaring di atas panrung untuk makan. Mungkin karena kecapekan dan kelaparan, ayah saya segera melahap nanre saroso jagung ‘prematur’ tersebut, dengan ditemani sayur daun kelor yang hanya berbumbu garam, dan lauk berupa gerusan garam butiran dan ladang barica.

Setelah selesai meneguk air mentah yang terwadahi kendi batok kelapa, menggunakan cangir tempurung kelapa yang beraroma wangi bekas di asapi (di balempeng – Bugis), ayah saya dengan serta merta mengucapkan syukur Alhamdulillah dengan helaan nafas panjang, serta dengan nada gembira laksana orang ‘kejatuhan durian runtuh’.  Saking nikmatnya, beliau terbaring tanpa bantal di panrung dihembus semilir angin pegunungan Umpungeng, dan baru terbangun menjelang magrib ketika pamannya tiba kembali dari dusun mengambil bahan makanan untuk makanan malam.

Sampai belasan tahun kemudian, ayah saya berkali-kali menuturkan kepada kami, anak-anaknya, bahwa hidangan makan prematur tersebut merupakan santapan yang paling nikmat dan terkenang seumur hidupnya. Sampai beliau kemudian menduduki berbagai jabatan kepolisian di Luwu, Tanah Toraja, Palopo, Masamba, Wotu, sampai pensiun di Soppeng, menurutnya, beliau tidak pernah menikmati makanan senikmat jagung prematur di Umpungeng tersebut.

Sampai beliau meninggal, beliau tidak pernah mau diajak makan ke restoran (kalaupun menghadiri acara pesta, pasti pulangnya minta makan lagi karena makan daging atau ayam, kurang nendang, katanya). Beliau lebih senang menikmati makan nasi ‘beras mandi’ (ase mandi) dengan ikan kering [(pijja bungoo, dolo-doloo, pijja bale bolong -- yang disiram dengan minyak baru tanak – sambal udang kering dengan perasan jeruk nipis, sambal keluak yang dibakar di dalam tempurungnya, dan kadang-kadang dengan ikan gabus asap – bale tekko dan rontok - Bugis), atau telor asing rebus], dengan ditemani sayur bening campur-campur (kaju sibau’ bau’ – Bugis) atau sayur sukun muda (bakaa lolo) dengan buah kelor (bua kiloro’), terong kecil dan labu kuning dengan bumbu cincangan daun asam Jawa (daung pekkecci Jawa) dan bumbu penyedap dari telor udang (tello urang).

Terkadang kalau lagi kurang selera makan, ayah saya minta dibuatkan cacahan mangga muda (cecca pao lolo), masakan cabe muda dan jamur kecil (nasu ladang keddi), atau ramuan jantung pisang dengan kelapa (lawaa doke’), samber terong, dengan bumbu irisan batang serai dan daun kemangi bersama ikan manggarai, serta berbagai kuliner tradisional lainnya yang umumnya nampak aneh di mata generasi muda, seperti anak-anak dan kemanakan saya.

Hal yang menjadi masalah bagi saya, bahwa kebiasaan kuliner orang tua saya tersebut ternyata menular bulat-bulat kepada saya sampai kini saya sudah berusia 65 tahun -- meskipun saya hanya dibesarkan di kampung halaman 15 tahun (3 tahun di Takkalalla, dan 12 tahun di dusun Buccello, Bila Selatan, Watan Soppeng). Setiap pulang kampung (mudik), koper saya penuh dengan bahan-bahan makanan tradisonal karena saya tidak bisa memperolehnya di Jawa. Anak-anak dan kemanakan saya, yang semuanya Bugis Asli di lahirkan dan dibesarkan di luar Tanah Bugis, hanya nyengir-nyengir kuda menyindir, kalau mereka menyambut kami pulang dari mudik di bandara, sambil bisik-bisik satu sama lain dengan gaya anak muda. “Hari geene …!, bapak pasti bawa lagi bahan-bahan kuliner ‘kuno’ dari kampung – di era kuliner modern ini. Saya hanya bergegas naik mobil pura-pura tidak dengar sindiran mereka. Saya mengetahui bahwa mereka pasti tidak akan melirik bawaan kami manakala ngeriung makan, dan lebih memilih menikmati berbagai makanan cepat saji (fast food) yang menjamur saat ini ....... <Hagny>

Comments [1]

Akhirnya saya bisa juga ke DC setelah disekap oleh Polisi selama 3 jam di Bandara Los Angeles

Akhirnya, pada hari Minggu tanggal 19 Februari 1995, saya sempat juga menginjakkan kaki di DC, USA setelah sebelumnya sempat disekap polisi Amerika di Bandara Domestik Los Angeles pada tanggal 13 Februari 1995, karena tidak memiliki visa Amerika.
Tanggal 10 Februari 1995, saya berdua teman saya Pak Hasan seharian di kedutaan Amerika di Jakarta, untuk meminta visa transfer di Bandara Domestik Los Angeles, dalam perjalanan ke Mexico. Malang sekali karena visa saya tidak bisa keluar sampai hari Senin, padahal tanggal 13 Senin, kami sudah berangkat ke Mexico. Akhirnya, kami putuskan untuk meminta paspor kembali tanpa ada visa transfer di Amrik, dan nekat berangkat ke Mexico dengan Pesawat Garuda yang sudah diissue dua minggu sebelumnya. Kami hanya sempat komat kamit membaca doa semoga kami tidak ditahan di Los Angeles, sepanjang penerbangan dari Jakarta, Hongkong sampai Los Angeles.
Rupanya Pilot Garuda sudah mengabarkan ke Bandara Los Angeles bahwa ada dua orang penumpang non Visa yang akan transit di Los Angeles malam itu. Sehingga begitu pesawat mendarat, sertamerta dua orang Polisi bersenjata pistol otomatis di pinggang menemui kami di pesawat, meminta paspor dan dokumen perjalanan dan meminta kami turun mengikutinya ke ruang tunggu Bandara Domestik, yang jadwal pesawat akan terbang 3 jam lagi menuju Mexico City.
Sambil berjalan kaki melewati gerbang Bandara Internasional, saya berdua dengan teman saya Pak Hasan tidak henti-hentinya dalam pengawasan kedua polisi tersebut. Semua orang memandang kami seolah-olah memandang penjahat internasional (waktu itu belum populer istilah teroris) yang sedang ditangkap. Untung kami tidak diborgol. Kami sempat tegang selama tiga jam, selama menunggu penerbangan lanjutan dengan pesawat Mexican Airlines.
Pada saat pesawat akan berangkat, kami tetap dikawal sampai duduk ke nomor kursi tempat duduk pesawat. Polisi tersebut baru beranjak turun setelah pintu pesawat mau ditutup, dan mereka menyerahkan seluruh dokumen perjalanan kami kembali kepada Kapten pesawat Mexican Airlines. Kami baru lega setelah pesawat mendarat di Mexico City hampir pagi hari.
Kekhawatiran kami berikutnya, memenuhi benak kami karena pulangnya akan mampir ke Washington DC untuk sesuatu urusan ke kantor Bank Dunia. Untung, di Mexico City kami dapat mengurus visa selama tiga hari, meskipun mengalami kesulitan karena formolir isian yang ada di kedutaan Amerika Mexico City, kehabisan yang berbahasa Inggeris, sehingga terpaksa cari-cari dulu orang Mexico untuk dimintai bantuan mengisi formulir aplikasi visa yang berbahasa Spanyol.
Alhamdulillah, kami memperoleh visa Amerika tiga hari kemudian, dan merasa lega berangkat kembali ke Indonesia dengan mampir emapat hari di Washington DC. Saya sempat memuas-muaskan diri berkeliling kota di DC setelah menyelesaikan urusan di kantor World Bank. Di foto terlampir, kegembiraan tercermin di wajah kami berpose di sekitar Gedung Putih, yang saat ini sudah diduduki oleh Pak Obama yang saya banggakan. (Gany-070809) 

             
Click here to download:
Washington_DC.zip (4560 KB)

Comments [0]